Gudang Mafia BBM Bersubsidi Bebas Beroperasi di Jalan Damarwulan Desa Sampali, Polisi Terkesan Tutup Mata

DELISERDANG,FAKTASUMUT.COM- Kelangkaan BBM jenis Solar subsidi yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Utara dalam beberapa pekan terakhir memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.

‎Di saat sopir dan pelaku usaha harus mengantre berjam-jam di SPBU untuk mendapatkan Solar, sebuah gudang di Jalan Damar Wulan, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, justru menjadi sorotan karena diduga menjadi lokasi penimbunan dan pengolahan BBM subsidi.

‎Informasi yang dihimpun menyebutkan, gudang tersebut diduga dikelola oleh seorang pria bermarga Napit dan sebelumnya disebut-sebut pernah dikelola oleh Hendrik bersama Agus Konden.

‎Nama Agus Konden sendiri disebut telah lama berkecimpung dalam bisnis BBM ilegal dan dikabarkan beberapa kali berpindah lokasi operasional sebelum akhirnya diduga menetap di kawasan Sampali.

‎Sumber di lapangan menyebutkan aktivitas di gudang tersebut telah berlangsung cukup lama. Sejumlah mobil tangki berwarna biru-putih dan merah-putih disebut kerap keluar masuk lokasi, terutama pada malam hari.

‎Selain itu, truk Fuso yang telah dimodifikasi diduga digunakan untuk mengangkut Solar subsidi dari sejumlah SPBU sebelum dibawa ke gudang untuk diperjualbelikan kembali kepada pihak industri.

‎Dugaan tersebut turut dikaitkan dengan aktivitas kendaraan langsir yang disebut melakukan pengisian Solar subsidi berulang kali di sejumlah SPBU wilayah Medan. Kendaraan jenis Pajero, Fortuner, Innova Reborn hingga Kijang Innova disebut-sebut menjadi bagian dari jaringan pengumpulan BBM subsidi tersebut.

‎Di sisi lain, antrean panjang kendaraan di SPBU terus terjadi di Medan, Deli Serdang, Binjai, Langkat, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai hingga Tanjung Balai. Banyak sopir mengaku kehilangan waktu kerja hanya untuk mendapatkan Solar yang semakin sulit diperoleh.

‎”Akibat kelangkaan Solar ini kami sangat kesulitan mencari nafkah. Waktu habis di SPBU hanya untuk mengantre. Kalau kondisi seperti ini terus, pekerjaan jadi terganggu dan penghasilan berkurang. Kami berharap pemerintah dan aparat segera bertindak,” ujar seorang sopir yang ditemui saat mengantre BBM.

‎Keberadaan gudang yang diduga menjadi lokasi penimbunan BBM itu pun menambah keresahan masyarakat sekitar. Warga mempertanyakan mengapa kelangkaan Solar terus terjadi sementara muncul dugaan adanya penampungan BBM bersubsidi dalam jumlah besar.

‎”Kami sebagai warga tentu sangat resah kalau memang benar gudang itu digunakan untuk menampung Solar subsidi dalam jumlah besar. Di saat masyarakat dan sopir susah mendapatkan Solar di SPBU, justru ada informasi soal gudang yang diduga menyimpan BBM. Kondisi seperti ini membuat kami bertanya-tanya, kenapa warga harus antre berjam-jam sementara ada dugaan penimbunan yang masih beroperasi,” ujar seorang warga.

‎Warga lainnya mengaku aktivitas kendaraan besar yang keluar masuk gudang hampir setiap hari membuat masyarakat semakin curiga. Mereka juga khawatir terhadap potensi bahaya yang dapat ditimbulkan dari penyimpanan BBM dalam jumlah besar di dekat kawasan permukiman.

‎”Setiap hari kami melihat kendaraan besar keluar masuk lokasi. Aktivitasnya cukup mencolok, terutama pada malam hari. Sebagai warga, kami khawatir karena yang disimpan diduga bahan bakar. Kalau sampai terjadi kebakaran atau ledakan, tentu yang terdampak pertama adalah masyarakat sekitar,” kata seorang warga lainnya.

‎Menurut warga, persoalan ini bukan hanya menyangkut dugaan penyalahgunaan BBM subsidi, tetapi juga menyangkut hak masyarakat yang kesulitan memperoleh bahan bakar untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

‎”Kelangkaan Solar ini sangat menyusahkan. Banyak sopir kehilangan waktu kerja hanya karena harus mengantre. Kalau benar ada pihak yang mengambil keuntungan dari Solar subsidi lalu menjualnya kembali, tentu itu sangat merugikan masyarakat kecil yang memang berhak menikmati subsidi tersebut,” ungkap seorang warga.

‎Warga juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas di gudang tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi yang semakin luas di tengah masyarakat.

‎”Kami berharap aparat penegak hukum turun langsung melakukan pemeriksaan. Jangan sampai dugaan aktivitas seperti ini terus berlangsung sementara masyarakat dibuat kesulitan mendapatkan BBM untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutur seorang warga.

‎Senada dengan itu, warga lainnya menilai dugaan aktivitas penyimpanan BBM dalam jumlah besar di kawasan permukiman tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi mengancam keselamatan masyarakat.

‎”Yang membuat kami cemas bukan hanya soal dugaan penimbunan Solar, tetapi juga keselamatan lingkungan sekitar. Aktivitas penyimpanan BBM dalam jumlah besar di tengah permukiman penduduk tentu memiliki risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Karena itu kami meminta ada tindakan dan pengawasan yang serius dari pihak berwenang,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan aktivitas gudang tersebut. Masyarakat berharap Polda Sumatera Utara dan Polrestabes Medan segera melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran hukum, sekaligus menjawab keresahan publik yang semakin meningkat akibat kelangkaan Solar subsidi di berbagai daerah.(Jr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *