AMPP Minta Kandepag Mundur Jika Tak Bisa Selesaikan Kisruh di MAPN 4 Martubung

banner 160x600

Women face

MEDAN, FAKTASUMUT,com - Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) melakukan aksi unjuk rasa Kamis (6/9) di Kantor Kemenag Medan Jalan Sei Batu Gingging meminta Kepala Kemenag Medan H Alahyu MA segera menuntaskan kekisruhan di Madrasah Aliyah Persiapan Negeri (MAPN) 4 Martubung Medan.
 
Dengan membawa dua buah spanduk massa memaksa masuk untuk bertemu dengan Alahyu namun ternyata Alahyu sedang mengikuti acara di salah satu hotel bintang lima di Medan. Massapun akhirnya melakukan orasi secara bergantian agar kekisruhan di MAPN 4 Martubung segera diselesaikan sebab menurus massa kekisruhan tersebut ditunggangi oleh oknum guru pns dan non pns di madrasah tersebut.
 
Koordinator aksi Rino Hidayat Rambe dalam pernyataan sikapnya menuding Kepala Kemenag Medan Alahyu sengaja menghindari kedatangan mereka sebab surat pemberitahuan aksi sudah disampaikan tiga hari sebelum aksi digelar." Kepala Kemenag Medan sengaja menghindar dari aksi ini sebab kami sudah menyampaikan pemberitahuan aksi tiga sebelum aksi ini digelar,' kata Rino.
 
Di tengah-tengah hujan rintik Rino semakin menguatkan orasinya dan meminta agar pihak Kemenag Medan segera menemui mereka . Tidak berapa lama Ketua Tim penuntasan kekisruhan MAPN 4 Martubung yang juga KTU Kemenag Medan Negara Pohan di dampingi Kasi Penmad Drs H Impun Siregar MA mendatangi pengunjuk rasa.
 
Nepo mengajal massa aksi ke aula yang berada di lantai II Kantor Kemenag Medan yan dikawal ketat oleh aparat kepolisian sektor Medan Baru. Di dampingi Kasi Penmad Impun Siregar Nepo menceritakan bahwa persoalan di MAPN 4 Martubung sudah dibentuk Tim yang dipimpin oleh dirinya sendiri." Kami sudah memeriksa sebanyak 16 orang di MAPN4 tersebut yakni tenaga pengajar dan non pengajar juga termasuk kepala madrasah," sebut Nepo.
 
Nepo menyebutkan bahwa inti dari persoalan di MAPN 4 itu adalah sudah tidak ada lagi kecocokan komunikasi antara kepala madrasah dengan tenaga pengajar dan non pengajar di madrasah itu.
 
"Satu sisi ada tenaga pengajar dan non pengajar yang tidak siap menerima pembaruan sistem yang dibuat oleh kepala madrasah yang baru sehingga timbul gejolak .Seperti kepala madrasah menerapkan absen finger print yang selama ini dilakukan secara manual. Kedua kepala sekolah menerapkan jam mengajar kepada seluruh guru sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan sebab selama ini banyak guru yang tidak mematuhi jam mengajar. Persoalan lainnya adalah kepala madrasah kepemimpinannya sangatlah hal itu terbukti dirinya tidak mampu memimpin bawahannya sehingga terjadi kekisruhan," sebut Nepo.
 
Sebelumnya dihadapan massa AMPP menyampaikan permohonan maaf Kakan Kemenag Medan Alahyu yang tidak bisa hadir karena ada acara diluar. Nepo menjelaskan pihaknya baru mengetahui aksi ini pda jam 9 pagi itupun informasinya dari pihak kepolisian.
 
Mendengar pengakuan Nepo itu sontak Rino bangkit dan meminta seluruh massa untuk meningalkan aula . Akirnya massa aksi meninggalkan aula dan meninggalkan Nepo dan Impun padahal pertemuan belum selesai dan ditutup.
 
Sambil berteriak massa AMPP kembali menyuarakan akan melakukan aksi kembali dan meminta agar Kepala Kemenag Medan bisa bertemu dengan mereka. Selanjutnya dengan tertib massa meninggalkan Kantor Kemenag Medan. 

 
(GB/FAKTASUMUT.com)